Menganiaya dan teraniaya berasal dari kata dasar yang sama, aniaya, satu berubah menjadi kalimat aktif, dan satunya berubah menjadi kalimat pasif. Kalimat aktif merujuk pada subyek, kalimat pasif merujuk pada obyeknya. Orang yang sedang teraniaya itu sangat istimewa, karena doa orang tersebut dijamin makbul. Tapi tentu kita tidak memilih teraniaya terus menerus hanya sekedar ingin doa kita makbul. Aniaya, secara mudah memiliki konotasi dengan penyiksaan fisik, penuh kekerasan. Aniaya secara fisik mudah ditelusuri subyek dan obyeknya. Akan meminggalkan bekas luka pada obyek dan sang obyek bisa dengan mudah manyebutkan pelaku penganiayaan itu. Penganiayaan fisik tidak lah mengerikan, yang lebih mengerikan adalah penganiayaan non fisik. Tanpa bekas, namun meninggalkan luka. Kita dengan mudah bisa menghindari perbuatan penganiayaan fisik terhadap orang lain, dan saya yakin kita sendiri yang tidak berani melakukannya. Namun penganiayaan non fisik, bisa jadi sudah kita lakukan sehari-hari dengan tenang dan santai, hanya karena kita tidak sadar bahwa kita sedang menganiaya orang lain. Lalu apa kriteria penganiayaan non fisik itu? Menurut saya, kita sudah menganiaya orang lain apabila kita menghalangi terpenuhinya HAK orang lain. Sebagai lawan dari menganiaya orang lain, kita juga bisa teraniaya orang lain, kalau ini gampang. Apabila anda merasa ada hak anda yang terganggu, atau terhambah terpenuhinya, itu artinya Anda sedang teraniaya, mungkin Anda tahu pelakunya, mungkin juga tidak tahu. Atau lebih baik tidak usah mencari tahu, nanti akan menumbulkan dendam (jika iman dan mental Anda tidak kuat). Lebih baik Anda ikhlaskan saja, karena kalau benar Anda mengikhlasakan kesalahan orang lain, itu lebih mulia daripada menyuburkan rasa dendam. Saat ini, ada hak saya yang sedang tertunda, saya tidak menyalahkan siapapun, dan saya tidak ingin mengatakan bahwa saya sedang teraniaya. Saya yakin semua orang di sekitar saya waktu itu sudah bekerja maksimal, ini semua terjadi akibat kesalahan saya sendiri, atau bisa jadi justru ini adalah hukuman karena saya pernah menganiaya orang lain. Menyadari ini adalah kesalahan, saya hanya ingin kesalahan ini tidak terulang kepada orang lain. Keinginan itu saya wujudkan dengan mengingatkan masalah ini kepada pihak yang sangat kompeten. Sebagai langkah preventif, agar pihak yang kompeten tidak menganiaya orang lain secara tidak sadar. Kalau yang saya alami ini hukuman, semoga Allah mengampuni kesalahan saya yang telah lampau. Kalau yang saya alami adalah penganiayaan, semoga saya dikuatkan iman dan dijauhkan dari rasa dendam. Aminn. |
wong ndeso
Kamis, 04 Maret 2010
Selasa, 04 Maret 2008
JATIDIRI
JATIDIRI MANUSIASuatu perwujudan dari aktivitas kehidupan manusia sering kita namakan kebudayaan atau peradaban manusia, yang mencakup filsafat (pikiran) mengenai logika, etika, dan estetika, ilmu pengetahuan sebagai metoda, teknologi yang merupakan aplikasi ilmu pengetahuan dan seni sebagai ungkapan estetis. Dalam aspek kehidupan, peranan manusia sebagai makhluk berakal dipengaruhi dua aspek yaitu aspek alamiah, meliputi letak geografis, kemampuan, pendidikan, dan kekayaan alam. Sedangkan aspek sosial meliputi aspek ideologi, politik, sosial budaya dan hankam.Sesuai dengan tingkat perkembangan dan pendidikan manusia sebagai manifestasi (pencerminan) jati diri sebagai ekspresi, pencernaan pribadi dan tanggapan dalam penciptaan baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakatnya maka diperlukan sikap manusia dalam menopang proses kreatif sebagai pencerminan jati diri. Dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan yang dilanda arus informasi yang semakin deras, memungkinkan adanya komunikasi dengan dunia luar, sehingga kreativitas akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan akselerasinya. Pendidikan kreatif merupakan wahana penyaluran ideologi setiap insan manusia, dimana dalam membentuk jati diri yang mandiri. Kreativitas Sudah tidak asing lagi masalah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari, namun kita selalu mempersoalkannya, baik di lingkungan pendidikan maupun sosial kemasyarakatan. Masalah kreativitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan kreatif, dimana orang hanya mementingkan ratio dan logika saja sehingga akan kehilangan identitas kreatifnya. Kreativitas sebagai suatu proses, hal ini tidak hanya dimiliki oleh anak genius, seniman, dewasa, penemu saja akan tetapi setiap manusia memilikinya. Seperti tiap-tiap manusia memiliki ratio dan fisik, akan tetapi berbeda tingkat intensitasnya karena setiap tindak (sikap) manusia pada hakekatnya merupakan integrasi dari ketiga tingkat kemampuan, fisik, rasio, dan kreativitas. Dalam pertumbuhan dan perkembangan pada orang dewasa peranan fisik tidak begitu penting dan setiap rangsang untuk bertindak kreatif lebih cenderung dipahami secara rasional. Sedang dalam pendidikan selama ini masalah kreativitas dalam mengembangkan rasio dan penemuan inovasi baru. Kreativitas dalam proses kreatif penciptaan diperlukan adanya kematangan pribadi dan integrasi dengan lingkungan yang meliputi sarana, keterampilan, orisinalitas, sebagai ungkapan dan identitas yang khas. Disinilah kreativitas merupakan salah satu kemampuan manusia yang dapat membentuk kemampuan-kemampuan lainnya baik kematangan pribadinya dan integrasi dengan lingkungannya hingga tercipta sesuatu yang baru atau yang lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)